Home

Cuma 1 yang pasti: Kematian.

August 3, 2011

Kematian bisa datang kapan saja. Tidak hanya menimpa pada orang yang sudah tua, sakit-sakitan, dan kondisi yang sedang diliputi krisis tetapi bisa menimpa pada orang muda, sehat, dan kondisi yang sedang menuju puncak kesuksesan. Setidaknya inilah yang saya rasakan dari meninggalnya seorang sahabat yang meninggal pada akhir Oktober lalu. Dia Meninggal dalam usia yang relatif muda yaitu 30 tahun dengan meninggalkan seorang isteri dan seorang putri. Sebelum meninggal, dia adalah pengelola sebuah warnet di kawasan Margonda, Depok. Yang membuat trenyuh, dia meninggal justru ketika jiwa usaha dan bisnisnya sedang bersinar dan dia mulai mengembangkan sayap usaha dengan membangun warnet sendiri di wilayah Tangerang.

Saat saya bertakziyah —sebelum dimakamkan— di kediaman orang tuanya di Cililitan, dengan rona kesedihan sang isteri mengatakan bahwa biasanya sebelum sang suami hendak naik memasang atau memperbaiki antena, dia selalu mengingatkan untuk selalu memakai peralatan pengaman. Tetapi pada saat itu dia tidak sempat mengingatkannya dan Almarhum sendiri pun tidak mengantisipasinya. Akhirnya terjadilah musibah itu. Kecelakaan selalu menyisakan sebab-musabab yang masuk akal sebagai pelajaran bagi yang masih hidup. Namun semua itu itu tidak terlepas dari skenario Allah sebagai sang sutradara kehidupan.

Saat saya pulang dan membicarakan masalah kematiannya bersama isteri, barulah saya mengetahui bahwa kejadian serupa ternyata pernah menimpa kakak ipar isteri saya bernama Syamsul, yang terjadi sebelum kami menikah. Bidang usaha Syamsul bukanlah warnet seperti Almarhum, akan tetapi supplier dan jasa pemasangan peralatan radio komunikasi. Saat itu Syamsul sedang memasang antena baru di depan kantornya. Tiba-tiba dia terjatuh dari ketinggian 10 meter. Beruntung sekali, sebelum menyentuh tanah dia menimpa bangku kayu. Seketika itu dia tidak sadarkan diri (koma). Kemudian oleh isteri saya —yang berada tidak jauh dari lokasi kejadian— dan beberapa orang yang menyaksikan kejadian itu, digotong dan dibawa ke UGD Rumah Sakit. Atas rahmat Allah karena memang masih ada umurnya, tidak lama setelah lama terbaring tanpa daya, dia sadarkan diri.

Dua kejadian di atas adalah kejadian yang mirip, tetapi berakhir dengan kondisi yang berbeda. Sahabat saya meninggal sedangkan Syamsul —kakak ipar isteri—selamat dari ajal. Yang satu mengundang tangis, yang satu lagi mengundang bahagia (kesyukuran).

Dalam hati saya bergumam alangkah beruntungnya Syamsul. Seharusnya dia banyak bersyukur kepada Allah dengan banyak mengisi hidupnya dengan kebaikan. Kami berpikiran demikian karena saya tahu Syamsul belum termasuk orang yang taat dalam menjalankan agama.

Setelah kejadian itu, adik-adiknya menjulukinya dengan ‘Superman’, karena keselamatan dia dari kejatuhan 10 meter itu adalah hal yang sangat menakjubkan. Seharusnya mereka tidak mengatakan demikian jika mengetahui bahwa yang kuat itu bukanlah dia tetapi Allah yang Maha Kuasa. Saya menyadari julukan itu dimaksudkan untuk bercanda, namun seharusnya kemurahan dan kemahakuasaan dari Allah-lah yang harus senantiasa diingat dan disebut-sebut. Saya mengambil pelajaran, kebanyakan manusia memang bersifat lupa dan sedikit dari mereka yang berusaha mengambil pelajaran dari peristiwa masa lampau yang dialaminya.

***

Kita semua pasti pernah mengalami saat-saat di mana Allah menyelamatkan kita dari ajal. Baik saat terpeleset, tertabrak, hampir tenggelam, turbulensi di pesawat udara, tertimpa benda keras, terhindar dari lubang, dan lain-lain. Saya pun pernah mengalami hal tersebut, yaitu saat saya mengendarai sepeda motor dalam kondisi mengantuk. Beberapa kali saya mengalami kondisi yang membahayakan. Sampai saat ini kejadian tersebut itu tertanam kuat dalam memori saya. Saya bersyukur dan merasa Allah benar-benar telah menyelamatkan hidup saya. Ada efek positif dengan selalu mengingat kejadian tersebut, yaitu sejak saat itu saya selalu berusaha berhati-hati dalam mengendarai sepeda motor. Jika ada rasa ngantuk sedikit, saya mampir di masjid terdekat untuk sekedar menghilangkan kantuk.

Mengingat kematian khususnya saat-saat Allah menyelamatkan dari ajal, juga berefek sangat positif bagi pembangunan jiwa. Terutama tatkala kita merasakan kebuntuan dalam hidup, merasa sedih, malas, lemah, bosan, tidak semangat, tidak berarti, kecewa, putus asa, dan sifat-sifat negatif menyelimuti diri. Menghadirkan kematian di pelupuk mata, sering kali menjadi alat yang efektif untuk melejitkan motivasi dan memproduktifkan amal kebaikan. Selagi masih diberi kesempatan hidup, maka amal-amal kebaikan harus dilakukan sebanyak-banyaknya sebelum kematian benar-benar datang menjelang. Seperti halnya kita menghargai nikmat sehat karena pernah mengalami sakit, kita seharusnya mampu menghargai (mensyukuri) nikmat dan kehidupan dengan menghadirkan (membayangkan) kematian di pelupuk mata.

Masalahnya kita terlalu sibuk dengan urusan dunia sehingga kita lalai dari mengingat Allah, termasuk mengingat Allah tatkala menyelamatkan hidup kita. Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi. ”

Kita akan rugi karena kelalaian selalu membawa malapetaka bagi kita. Sebagaimana kelalaian yang membawa kepada kematian seperti mengantuk, lalai tidak mengecek kesiapan alat untuk melakukan perjalanan, lalai tidak menggunakan peralatan pengamanan dan lain-lain. Dan kelalaian ini bisa dikurangi bahkan bisa dihilangkan dengan senantiasa mengingat kematian. Sebab kita akan senantiasa berhati-hati dan berhati-hati itu menjadikan kerja-kerja menjadi optimal.

Oleh Muhammad Rizqon

cuplikan dari >>klikdisini<<

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: