Home

Yasinan-Tahlilan-Zikiran-Solawatan (dengan akhiran “an”)

June 22, 2013

Segala pembenaran dilakukan untuk melakukan Yasinan-Tahlilan-Zikiran-Solawatan (dengan akhiran “an”).

Praktek Yasinan-Tahlilan-Zikiran-Solawatan ini tidak = Baca Yasin-Tahlil-Zikir-Solawat (tanpa akhiran “an”).

Yasinan-Tahlilan-Zikiran-Solawatan <— Adalah Bid’ah. Ibadah yang diada2kan.

Sedang kita tahu bahwa apa saja yg diniatkan untuk ibadah itu sifatnya harus Tauqifi, tidak boleh dibuat-buat sendiri, harus dengan petunjuk Allah subhanahu wa ta’ala.

Jika tidak ada petunjuk Allah subhanahu wa ta’ala seperti yg dicontohkan Nabi shallallahu alaihi wassalam maka amalannya tertolak!

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam telah bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌ. وَقَالَ: مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌ

“Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintah dari kami, maka amalan itu tertolak.” Dan: ”Barangsiapa yang mengada-adakan suatu dalam urusan kami yang bukan daripadanya, maka dia tertolak.”

Imam Asy Syathibi, Ibrahim bin Musa Al Gharnathi rahimahullahu mengatakan (I’tisham 1/318-319):

Apabila syari’at menganjurkan untuk berdzikir kepada Allah. Kemudian berkumpullah beberapa orang melakukannya dengan suara yang satu. Atau pada waktu yang telah dikhususkan, tidak mesti dalam anjuran tersebut sesuatu (22)… bahkan justeru sebaliknya.

Sebab, melaksanakan suatu amalan terus-menerus yang tidak ditetapkan oleh syari’at, ini akan memberikan pemahaman sebagai suatu penetapan syari’at baru. Apalagi dilakukan dengan seorang yang jadi panutan di tempat tertentu, seperti masjid.

Kalau ini dimunculkan dan dilakukan di masjid seperti syi’ar-syi’ar yang ditetapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam dilaksanakan di masjid atau yang lainnya seperti azan, shalat ‘iedul fithri dan ‘iedul adlha, shalat gerhana dan istisqa` (minta hujan), akan dipahami bahwa ini adalah sunnah, kalau tidak dipahami sebagai suatu kewajiban.

Maka tentunya tidak mungkin tercakup oleh dalil yang digunakan, sehingga dia dikatakan bid’ah dari sisi ini.
Karena itulah salafus shaleh meninggalkan hal-hal ini atau tidak mengamalkannya, padahal mereka adalah orang yang memang pantas mengerjakannya dan ahlinya, kalau memang hal itu disyari’atkan sesuai dengan kaidah yang berlaku.

Dan syari’at telah memberikan anjuran dalam berbagai permasalahan. Bahkan tidak dituntut mengerjakan ibadah sebanyak mungkin seperti yang dituntut dalam masalah dzikir ini.

Misalnya firman Allah Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللهَ ذِكْرًا كَثِيرًا…

“Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.” (Al Ahzab 41).

Dan

وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللهِ وَاذْكُرُوا اللهَ كَثِيرَا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“..Dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (Al Jumu’ah 10).
Berbeda dengan waktu-waktu yang lainnya.

Seperti ini pula halnya do’a, karena dia adalah dzikrullah. Meskipun demikian, tidak harus dikerjakan menurut tatacara tertentu.

Atau dibatasi dengan waktu tertentu, di mana seolah-olah waktu tersebut khusus untuk do’a itu. Terkecuali, adanya dalil yang menerangkan demikian, pagi atau petang. Dan mereka tidak menampakkan amalan-amalan itu kecuali yang dituntunkan oleh syari’at. Misalnya dzikir ketika hari raya ‘Iedul Fithri atau ‘Iedul Adha dan yang sejenisnya. Adapun yang selain itu mereka berupaya menyembunyikan dan merahasiakannya. Oleh sebab itu pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam berkata ketika mereka mengangkat suara dalam suatu dzikir:

إِرْبِعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَإِنَّكُمْ لاَ تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلاَ غَائِبًا

“Kasihani diri kalian. Sesungguhnya kalian tidak menyeru sesuatu yang tuli dan ghaib.”

Mereka tidak melakukannya terang-terangan ketika berjama’ah.
Maka, semua yang menyimpang dari prinsip ini, pada awalnya dia menyelisihi kemutalakan dalil, karena dia membatasinya dengan ra`yunya. Kemudian dia menyelisihi orang-orang yang lebih tahu tentang syari’at ini –yaitu salafus shaleh radliyallahu ‘anhum-. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam juga meninggalkan suatu amalan yang beliau sukai, hanya karena khawatir akan diikuti oleh ummatnya yang nantinya akan menjadi suatu kewajiban.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu pernah ditanya tentang orang yang mengatakan:

”Saya yakin bahwa seseorang yang mengada-adakan perkara baru dalam melakukan dzikir-dzikir yang tidak disyari’atkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam, dia telah berbuat kesalahan. Karena kalau memang betul dia ridla Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam sebagai Imam, panutan dan pembimbingnya, niscaya dia akan merasa cukup mengamalkan apa yang dituntunkan oleh beliau.

Maka ketika dia beralih kepada ra`yu (pendapatnya sendiri) dan perbuatan yang diada-adakannya, adalah suatu kebodohan dan tipuan syaithan yang menjadikan indah perbuatan dosa yang dilakukannya. Dan di samping itu, tindakannya itu adalah bentuk penyelisihan terhadap As Sunnah. Sebab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam tidak meninggalkan suatu kebaikan melainkan telah mengajarkannya kepada kita. Sementara Allah juga tidak menyembunyikan satu kebaikan pun dari beliau. Buktinya, Allah ‘Azza wa Jalla telah memberikan kepada beliau seluruh perbendaharaan dunia dan akhirat kepada beliau karena beliau adalah makhluk yang paling mulia di sisi Allah Ta’ala. Bukankah jelas demikian kenyataannya?”

Beliau menjawab: ”Alhamdulillah. Tidak disangsikan lagi bahwa dzikir dan do’a-do’a merupakan ibadah yang paling utama. Sedangkan ibadah itu pada prinsipnya dibangun di atas tauqifiyah, dan ittiba’, bukan berdasarkan hawa nafsu, dan bid’ah. Dengan demikian, dzikir-dzikir dan do’a-do’a yang bersumber dari Sunnah Nabawiyah adalah lebih utama untuk dilakukan oleh mereka yang ingin beramal. Orang yang menempuhnya berarti telah melalui jalan yang aman dan selamat, dan akan mendapatkan berbagai faedah yang tidak mungkin dinilai dengan kata-kata dan bahkan tidak mungkin diselami oleh manusia.

Adapun dzikir yang lain dari itu bisa jadi suatu hal yang haram, makruh, dan bahkan mungkin berisi kesyirikan yang kebanyakan manusia tidak memahami hal ini.
Sehingga, tidak ada hak bagi siapapun untuk menetapkan sunnah (aturan) baru dalam dzikir dan do’a yang tidak dituntunkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam lalu menjadikannya sebagai satu tatacara ibadah ritual yang dilaksanakan manusia seperti mereka mengerjakan shalat lima waktu. Sesungguhnya, inilah bid’ah dalam agama itu, yang tidak pernah Allah meridlainya. Berbeda dengan do’a yang kadang-kadang diucapkan seseorang tanpa maksud dia menjadikannya sunnah (aturan) bagi orang lain. Kalau dia tidak tahu bahwa d’a itu mengandung makna yang haram, maka tidak boleh dipastikan keharamannya.

Akan tetapi bisa jadi hal itu demikian, namun dia tidak menyadarinya, misalnya ketika seseorang berdo’a dalam keadaan darurat, dengan do’a-do’a yang terbuka baginya seketika itu juga. Dan contoh seperti ini banyak.

Adapun wirid-wirid yang tidak disyari’atkan dan menjadikannya sunnah, maka inilah di antara hal-hal yang dilarang. Sedangkan di dalam do’a-do’a dan dzikir yang dituntunkan oleh syari’at terdapat berbagai tujuan dan harapan yang baik dan mulia, dan tidaklah akan meninggalkannya lalu mengamalkan dzikir dan do’a-do’a bid’ah kecuali orang yang jahil, atau melampaui batas. (Majmu’ Fatawa 22/510-511).

Lajnah Daimah (Majelis Fatwa Sa’udi ‘Arabia) pernah ditanya:”Apakah hukumnya do’a dengan berjama’ah langsung setelah membaca Al Quran. Di mana seseorang berdo’a dan yang lain mengaminkannya, dan ini terus dilakukan setelah pelajaran. Dan ketika ditanya apa dasar mereka melakukannya, dijawab dengan firman Allah Ta’ala:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdo`alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (Ghafir 60).

Jawaban Lajnah:

“Pada prinsipnya, dzikir dan ibadah lainnya bersifat tauqifi. Artinya juga adalah bahwa tidak diibadahi kecuali dengan hal-hal yang telah disyari’atkan. Demikian pula dengan kemutlakannya atau penentuan waktunya serta tatacaranya ataupun batasan bilangan dalam masalah do’a, dzikir atau ibadah yang disyari’atkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla dan disebutkan secara mutlak tanpa pembatasan dengan tempat, waktu atau jumlah atau tatacaranya. Maka tidak boleh kita mengerjakannya dengan tatacara atau batasan waktu atau jumlah tertentu. Tetapi kita beribadah kepada-Nya sebagaimana disebutkan secara mutlak.

Apapun amalan yang terdapat pembatasannya dengan dalil qauli, atau ‘amali, baik tatacara, tempat, waktu atau jumlahnya maka kita hendaknya beribadah kepada Allah dengan dalil tersebut.

Sedangkan do’a bersama-sama setelah shalat jama’ah atau setelah selesai membaca Al Quran atau setelah pelajaran, tidak ada tuntunannya sama sekali dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam baik ucapan, perbuatan maupun taqrir. Sama saja apakah do’a itu dibacakan seorang imam dan diaminkan oleh ma`mum atau ma`mum berdo’a bersama-sama dari mereka sendiri. Hal ini juga tidak pernah dikerjakan sama sekali oleh Khulafaur Rasyidin dan para sahabat lainnya radliyallahu ‘anhum.

“Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintah dari kami, maka amalan itu tertolak.” Dan: ”Barangsiapa yang mengada-adakan suatu dalam urusan kami yang bukan daripadanya, maka dia tertolak.”

Adapun dalil yang mereka kemukakan tadi (Ghafir 60), tidaklah menjadi hujjah (alasan, argumentasi) bagi mereka, karena dalil ini mutlak dan tidak ada penentuan tatacara yang harus dikerjakan oleh mereka. Dan dalil mutlak ini harus diamalkan menurut kemutlakannya tanpa memperhatikan keadaan khusus.

Seandainya hal itu disyari’atkan tentulah akan diperhatikan dan dijaga oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam dan para khalifah sepeninggal beliau. Dan telah kita terangkan bahwa hal ini tidak pernah dikerjakan oleh beliau dan para sahabatnya.
Padahal yang namanya kebaikan yang sesungguhnya adalah dengan mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam dan jalan yang ditempuh para Khulafaur Rasyidin radliyallahu ‘anhum.

Sedangkan keburukan yang sesungguhnya adalah menyelisihi tuntunan mereka dan mengikuti perkara yang diada-adakan yang telah diperingatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam kepada agar kita menjauhinya, sebagaimana sabda beliau:

إيَِاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Jauhilah oleh kalian perkara yang diada-adakan. Karena sesungguhnya setiap bid’ah itu adalah sesat.”

Ada sebuah pertanyaan lain yang diajukan kepada Lajnah ini, yang mengatakan: ”Bolehkah mengerjakan dzikrullah secara bersama-sama (jama’i) dengan satu suara seperti yang dikerjakan para penganut tarekat, kemudian mengakhirnya dengan hadlrat (pertemuan para sufi untuk menari, bernyanyi -ed) sambil membaca Al Quran secara bersama-sama dengan satu suara di masjid, rumah-rumah atau tempat-tempat perayaan?”

Jawab: “Dzikrullah dengan bersama-sama satu suara yang diakhiri dengan hadlrat dan membaca Al Quran bersama-sama satu suara, di masjid, di rumah atau di tempat-tempat perayaan, tidak ada dasarnya menurut syari’at sama sekali. Para sahabat radliyallahu ‘anhum adalah orang-orang yang paling pertama mengikuti syari’at ini, dan tidak ada keterangan sedikitpun mereka melaksanakannya. Demikian pula generasi berikutnya yang dikatakan sebagai qurun terbaik dalam ummat ini. Sebagaimana yang sudah kita jelaskan bahwa kebaikan itu sesungguhnya ada pada sikap ittiba’ (meneladani) tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam telah bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌ. وَقَالَ: مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌ

“Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintah dari kami, maka amalan itu tertolak.” Dan: ”Barangsiapa yang mengada-adakan suatu dalam urusan kami yang bukan daripadanya, maka dia tertolak.”

Dan karena bukan merupakan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam maka tidak ada seorangpun sahabat yang mengerjakannya –sejauh yang kami ketahui-. Maka perbuatan ini adalah bid’ah, dan tercakup dalam dalil ini, sehingga dia tertolak. Begitu pula mengambil upah atas perbuatan ini. Wabillahi Taufiq. (Fatwa Lajnah 2/520-521).

Do’a itu adalah ibadah. Namun tidak ada satu keteranganpun yang menjelaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam dan para sahabat radliyallahu ‘anhum berdo’a bersama-sama setelah selesai shalat. Maka berkumpulnya para jama’ah setelah selesai salam, untuk berdo’a bersama-sama adalah bid’ah yang diada-adakan, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam telah menegaskan:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌ. وَقَالَ: مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌ.

“Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintah dari kami, maka amalan itu tertolak.” Dan: ”Barangsiapa yang mengada-adakan suatu dalam urusan kami yang bukan daripadanya, maka dia tertolak.”

Membaca Al Quran berjam’ah itu adalah dengan satu suara, maka ini tidak disyari’atkan karena tidak ada riwayat amalan seperti ini dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam dan para sahabatnya radliyallahu ‘anhum. Adapun kalau mereka berkumpul, yang satu membaca dan yang lain mendengarkan, atau masing-masing membaca sendiri-sendiri, dengan tidak bertemu (beradu) suara mereka satu sama lain, baik dalam kalimat yang berharakat maupun sukun, washal (bersambung) maupun wakafnya (berhenti), maka hal ini disyari’atkan. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda:

وَمَا اجْتَمِعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِن بُيُوْتِ اللهِ يَتْلَّوْنَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُوْنَ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِيْنَةُ وَحَفَّتْهُمْ الْمَلاَئِكَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَذَكَرَهُمْ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهَ. رواه مسلم

“Tidaklah berkumpul satu kaum di salah satu rumah Allah (masjid) membaca Kitab Allah (Al Quran) dan mempelajarinya di antara mereka, melainkan turun kepada mereka sakinah (ketenteraman), dan para malaikat menyelubungi mereka dan mereka diliputi oleh rahmat dan Allah menyebu-nyebut mereka di hadapan semua yang ada di sisi-Nya.”(HR. Muslim).

Dan dari Ibnu Mas’ud radliyallahu ‘anhu, dia berkata:

قَالَ لِي النَّبِي صلى الله عليه وآله وسلم:اِقْرَأْ عَلَيَّ. قُلْتُ: أَقْرَأُ عَلَيْكَ وَعَلَيْكَ أُنْزِلَ؟! قَالَ: فَإِنِّي أُحِبُّ أَنْ أَسْمَعَهُ مِنْ غَيْرِيْ. فَقَرَأْتُ سُوْرَةٌ اْلنِّسَاءَ حَتَّى بَلَغْتُ } فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيْدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلاَءِ شَهِيْدًا{ (النساء: 41), قَالَ: أَمْسِك . فَإِذَا عَيْنَاهُ تَذْرِفَانِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam berkata kepada saya: ”Bacakanlah untukku Al Quran!”

Saya bertanya: ”Bagaimana saya membacakannya kepada engkau, padahal dia diturunkan kepadamu, wahai Rasulullah?”

Kata beliau: ”Saya suka mendengarnya dari orang lain.”

Maka saya bacakan untuk beliau surat An Nisa, sehingga ketika sampai pada ayat (41):

فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيْدٍ وَجِئْنَا هؤلاء شهيدا  (Bagaimana kalau kami datangkan dari setiap ummat seorang saksi, dan kami hadirkan engkau sebagai saksi terhadap orang-orang ini?). Beliau berkata: ”Cukup!”

Ternyata mata beliau berkaca-kaca.” (HR. Bukhari-Muslim).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: